Pengalaman Mikayla: Dari Penyakit Jantung Bawaan hingga Kehidupan Normal
Mikayla, seorang anak berusia 8 tahun, menghadapi tantangan besar sejak lahir. Saat berusia 4 bulan, ia didiagnosis menderita penyakit jantung bawaan. Awalnya, gejala yang muncul adalah muntah berulang hingga tujuh kali dalam sehari. Keluarga awalnya mengira itu hanya gangguan pencernaan biasa. Namun, ketika warna muntahnya berubah menjadi biru dan tubuhnya juga membiru, keluarga mulai panik.
Pemeriksaan lebih lanjut menemukan adanya kelainan jantung bawaan, yaitu jantung bocor disertai penyempitan pembuluh darah menuju paru-paru. Diagnosis akhirnya ditegakkan sebagai Tetralogy of Fallot (TOF). Pada masa itu, Bangka Belitung belum memiliki dokter spesialis jantung anak, sehingga Mikayla harus dirujuk ke Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita di Jakarta.
Perjalanan Panjang Menuju Operasi
Operasi jantung baru dilakukan saat Mikayla berusia 6 tahun. Sebelumnya, keluarga harus menunggu antrean pasien dari seluruh Indonesia. Selama masa menunggu, kondisi kesehatan Mikayla terus memburuk. Ia bahkan sempat pingsan dan tak sadarkan diri selama dua jam karena komplikasi dari penyakit jantungnya. Setelah menjalani operasi otak untuk mengangkat abses di otak, operasi jantung menjadi prioritas utama.
Pada awal 2023, operasi jantung terbuka dilakukan selama sembilan jam. Dokter berhasil menutup kebocoran jantung dan memperbaiki penyempitan pembuluh darah. Setelah operasi, Mikayla mengalami komplikasi aritmia atau gangguan irama jantung. Untuk mengatasinya, alat pacu jantung permanen (PPM) dipasang melalui kateterisasi dalam waktu kurang dari dua jam.
Kehidupan Normal dengan Alat Pacu Jantung
Kini, Mikayla bisa bergerak aktif seperti anak seusianya. Meski harus memakai alat pacu jantung permanen, ia tetap ceria dan tidak terganggu oleh perangkat medis tersebut. Ayahnya, Hendi, menyebutkan bahwa BPJS Kesehatan sangat membantu keluarga dalam mengcover biaya operasi jantung, operasi otak, serta pemasangan PPM.
“Kalau tanpa BPJS, mungkin biayanya bisa ratusan juta,” ujar Hendi. Ia bekerja serabutan, seperti mengelola kebun sawit orang lain dan pekerjaan lainnya.
Anggaran Terbesar untuk Penyakit Jantung
Menurut Kepala BPJS Kesehatan Cabang Pangkalpinang, Apt. Aswalmi Gusmita, MSM., AAK, penyakit jantung kronis menjadi penyerap anggaran terbesar BPJS Kesehatan Bangka Belitung. Total biaya untuk penyakit jantung mencapai lebih dari Rp53 miliar, atau setengah dari total dana Rp96,075 miliar yang dialokasikan untuk penyakit kronis pada tahun 2025.
Penyakit jantung mendominasi anggaran karena membutuhkan layanan rutin dan tindakan lanjutan yang mahal. Stroke dan kanker menempati posisi kedua dan ketiga, dengan anggaran masing-masing sekitar Rp14,9 miliar dan Rp14,4 miliar. Sementara itu, penyakit langka seperti thalassemia dan gagal ginjal masing-masing menelan Rp5–6 miliar.
Konsep Gotong Royong dalam Program JKN
Aswalmi menjelaskan bahwa konsep gotong royong menjadi pilar utama program JKN. Peserta yang sehat memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan program, karena iuran yang dibayarkan menjadi penopang bagi peserta yang sedang sakit dan membutuhkan biaya besar.
“JKN justru dibangun agar semua saling membantu. Yang sehat membantu yang sakit, dan ketika yang sehat itu sakit, sistem akan bekerja sebaliknya,” tegasnya.
Kehidupan Mikayla yang Ceria
Saat ini, Mikayla bersekolah di SD dan hidup normal seperti anak-anak lainnya. Ia tertawa, berlari kecil, dan tidak tampak terganggu oleh alat pacu jantungnya. Di halaman rumahnya di Desa Jeriji, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, ia duduk sambil mengenakan seragam sekolah merah. Tangannya cekatan mengikat tali sepatu, lalu ia menoleh ke arah pintu.
“Mak (ibu-red)… ayo berangkat,” panggilnya tak sabar, disertai senyum lebar. Tidak ada yang menyangka, keceriaan pagi itu pernah nyaris tidak dimilikinya.











