Apa Itu Mabuk Perjalanan dan Bagaimana Cara Mengatasinya?
Perjalanan jauh, terutama saat mudik, seringkali menjadi momen yang dinantikan. Namun, tidak jarang perjalanan tersebut diiringi dengan rasa mual, pusing, dan keringat dingin. Kondisi ini dikenal sebagai mabuk perjalanan atau motion sickness. Meskipun tidak semua orang mengalaminya, bagi yang rentan, kondisi ini bisa sangat mengganggu.
Mabuk perjalanan bukan berarti seseorang tidak tahan naik kendaraan. Sebaliknya, ini merupakan respons biologis yang terjadi ketika otak menerima sinyal yang bertentangan dari mata, telinga bagian dalam, dan sistem sensorik tubuh. Ketidakcocokan informasi ini membuat otak “bingung” dan memicu gejala-gejala seperti mual, pusing, dan keringat dingin.
Penyebab Mabuk Perjalanan
Secara fisiologis, mabuk perjalanan dimulai dari konflik sensorik. Telinga dalam, khususnya sistem vestibular, mendeteksi gerakan tubuh, misalnya saat sedang dalam mobil atau kapal. Namun, mata mungkin melihat sesuatu yang diam, seperti saat membaca buku atau menatap layar. Sementara itu, otot dan sendi mungkin tidak merasakan perubahan posisi yang signifikan.
Perbedaan informasi ini diproses oleh batang otak dan serebelum sebagai konflik sensorik. Otak kemudian menganggap kondisi ini sebagai sesuatu yang tidak normal. Dari perspektif evolusi, konflik sensorik ini diduga dianggap sebagai tanda keracunan. Akibatnya, tubuh mengaktifkan mekanisme pertahanan, salah satunya dengan memicu muntah untuk mengeluarkan racun.
Bagian-Bagian yang Terpengaruh
Saat pusat muntah aktif, tubuh tidak hanya merasakan mual. Sistem saraf otonom, terutama bagian parasimpatik, ikut terlibat dan memicu reaksi seperti:
- Mual dan muntah.
- Pusing atau sensasi berputar.
- Berkeringat dingin.
- Hiperventilasi (napas cepat).
- Pucat dan lemas.
Respons ini merupakan bagian dari reaksi tubuh yang terkoordinasi antara otak dan organ tubuh lainnya. Mabuk perjalanan juga melibatkan sistem pencernaan. Penelitian menunjukkan adanya hubungan kuat antara otak dan usus. Akibatnya, seseorang bisa merasakan sensasi tidak nyaman di perut, seperti:
- Perut terasa bergolak atau tidak enak.
- Mual yang semakin intens.
- Dorongan untuk muntah.
Ini menjelaskan kenapa gejala mabuk perjalanan sering terasa berpusat di perut, meskipun penyebab utamanya berasal dari otak.
Cara Mencegah Mabuk Perjalanan
Berikut beberapa tips untuk mencegah mabuk perjalanan selama perjalanan jauh:
- Atur posisi duduk: Mabuk perjalanan bisa lebih parah jika duduk menghadap ke belakang atau samping. Cobalah ubah posisi duduk. Contohnya, duduk di bagian sayap dan jendela dalam pesawat, hindari menghadap belakang saat berada dalam kapal, kereta api, atau bus, dan duduk menghadap ke depan saat berkendara dengan mobil.
- Hindari makan terlalu kenyang sebelum bepergian: Mengisi perut sebelum melakukan perjalanan memang penting, tetapi jangan terlalu banyak karena guncangan dari kendaraan bisa menyebabkan mual dan pusing.
- Sediakan aromaterapi: Aromaterapi atau minyak angin bisa membantu mengurangi rasa mual dan tidak nyaman. Aroma tersebut bisa didapat dari minyak esensial tertentu, seperti minyak kayu putih, lavender, lemon, atau rempah-rempah seperti adas dan kapulaga.
- Konsumsi makanan ringan atau permen: Bawa snack seperti keripik, makanan manis, buah-buahan, atau permen mint untuk mencegah dan mengurangi perasaan mual.
- Istirahat yang cukup sebelum bepergian: Perjalanan jauh membutuhkan tubuh yang fit. Pastikan hari sebelumnya sudah beristirahat cukup. Kurang istirahat bisa menyebabkan pusing dan rasa mual saat perjalanan.
- Hindari membaca buku atau bermain ponsel: Membaca buku atau bermain HP ketika dalam perjalanan dapat memicu rasa pusing atau mual karena ketidakselarasan antara telinga dan mata. Saat mata terfokus pada satu titik, tubuh berusaha menyeimbangkan posisi karena guncangan saat perjalanan.
- Cari udara segar: Banyak orang merasa bosan dan penat saat perjalanan jauh. Untuk mengatasinya, carilah udara segar dengan membuka jendela atau berhenti di rest area dan berjalan sebentar.
- Minum obat mabuk perjalanan: Konsumsi obat anti mabuk satu hingga dua jam sebelum perjalanan. Pilihannya antara lain domperidone, metoclopramide, atau ondansetron. Namun, sebagian obat memiliki efek samping yang menyebabkan kantuk. Jadi, hindari mengonsumsinya saat harus mengemudi.











