Kesehatan Marshel Widianto yang Menurun Akibat GERD dan Komplikasi Lainnya
Marshel Widianto, komika sekaligus aktor ternama di Indonesia, mengungkapkan kondisi kesehatannya yang semakin memburuk akibat penyakit GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) dan komplikasi lainnya. Ia mengaku sempat dirawat di rumah sakit karena kondisi tubuhnya yang sangat menurun.
Marshel menyebut bahwa penyakitnya ini dipicu oleh kebiasaan buruk yang ia lakukan dalam jangka panjang. Dulu, saat hidupnya masih sulit secara finansial, ia terbiasa menunda lapar dengan hanya mengonsumsi obat maag. Hal ini dilakukannya agar bisa bertahan hingga ada uang untuk membeli makanan.
“Sebenarnya ini bawaan dari dulu waktu masih hidup susah. Dulu kan kalau makan ya kalau ingat saja, atau kalau ada duitnya baru makan. Akhirnya itu jadi kompilasi penyakit sekarang,” ujarnya.
Kebiasaan tersebut berdampak signifikan pada kesehatan Marshel. Ia mengalami gejala GERD yang parah, amandel yang besar, serta sinus yang juga terganggu. Akhirnya, ia harus menjalani operasi untuk mengatasi masalah tersebut.
“Masalahnya, kalau GERD saya lagi kambuh (asam lambung naik), dia jadi bingung mau keluar lewat mana karena amandel saya sudah besar sekali, hampir menutupi tenggorokan, dan sinusnya juga sudah parah,” jelas Marshel.
Ia juga mengakui bahwa saat kondisi tubuhnya sedang menurun, ia pernah hampir pingsan sementara sedang mengemudi mobil. Saat itu, asam lambung naik dan membuat penglihatannya sedikit pudar.
“Kami bersyukur bisa selamat. Tapi itu sangat membahayakan,” katanya.
Kini, kesehatan Marshel telah stabil dan ia kembali bisa menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk bekerja demi menafkahi istri dan anaknya.
Efek Negatif Jika Terlalu Banyak Mengonsumsi Obat Maag
Menunda lapar dengan hanya mengandalkan obat maag tanpa makan adalah kebiasaan yang sangat berisiko bagi kesehatan jangka panjang. Berikut beberapa efek negatif yang bisa terjadi:
- Risiko Komplikasi Penyakit: Penggunaan obat maag untuk menekan rasa lapar secara terus-menerus dapat memicu serangan GERD yang parah.
-
Dalam kasus Marshel, hal ini berkembang menjadi komplikasi penyakit lain seperti amandel, sinus, hingga memerlukan operasi.
-
Kerusakan Lambung: Terlalu sering mengonsumsi obat lambung justru berisiko merusak lapisan lambung itu sendiri jika tidak dibarengi dengan pola makan yang benar.
-
Efek Samping Antasida: Obat maag jenis antasida yang dikonsumsi berlebihan dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti diare atau sembelit. Penggunaan jangka panjang juga berisiko menyebabkan batu ginjal, osteoporosis, dan gangguan penyerapan vitamin atau mineral penting.
-
Menutupi Gejala Serius: Mengandalkan obat maag dapat “menyamarkan” gejala penyakit lain yang lebih parah, sehingga diagnosis yang tepat tertunda hingga kondisi menjadi kritis.
-
Anemia: Kondisi asam lambung yang tidak terkontrol dalam waktu lama dapat mengganggu penyerapan zat besi, yang berpotensi menyebabkan anemia.
Tentang GERD dan Komplikasinya
GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) adalah penyakit kronis saluran pencernaan di mana asam lambung naik kembali ke kerongkongan (esofagus) secara kronis (minimal 2 kali seminggu).

Hal ini disebabkan melemahnya otot katup (lower esophageal sphincter) di bagian bawah kerongkongan. Gejala utamanya meliputi rasa panas/terbakar di dada (heartburn) dan mulut terasa pahit atau asam.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai GERD berdasarkan temuan medis:
- Gejala Umum:
- Heartburn (rasa terbakar di dada) yang menjalar ke tenggorokan.
- Rasa pahit atau asam di mulut.
- Mual dan muntah.
- Nyeri ulu hati.
- Kesulitan atau nyeri menelan.
-
Batuk kronis, suara serak, atau sakit tenggorokan.
-
Penyebab & Faktor Risiko:
- Kelemahan otot katup kerongkongan bawah (LES).
- Obesitas (berat badan berlebih).
- Gaya hidup: merokok, sering makan dalam porsi besar, atau langsung berbaring setelah makan.
- Konsumsi makanan pemicu: berlemak, pedas, cokelat, kopi, teh, dan alkohol.
-
Kehamilan atau hernia hiatal.
-
Dampak Jika Tidak Ditangani:
- Kerongkongan mengalami luka/korosif (esofagitis).
- Penyempitan kerongkongan (striktur esofagus).
- Barrett’s esophagus (perubahan sel pra-kanker).
-
Erosi gigi.
-
Penanganan dan Pencegahan:
- Gaya hidup: Menurunkan berat badan, berhenti merokok, makan dalam porsi kecil, dan menghindari tidur langsung setelah makan.
- Posisi Tidur: Menggunakan bantal tambahan agar posisi kepala lebih tinggi.
- Medis: Konsumsi obat-obatan seperti Antasida, Antagonis Reseptor H2, atau Proton Pump Inhibitor (PPI) sesuai anjuran dokter.
- Jika gejala terjadi terus-menerus dan mengganggu, disarankan untuk melakukan pemeriksaan dokter atau endoskopi.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











