"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Opini  

Opini: Paskah dan Etika Kebersamaan Beragama di NTT

Perayaan Paskah di NTT: Simbol Etika Publik yang Hidup dalam Tindakan

Pada setiap musim Paskah, Nusa Tenggara Timur seolah memasuki sebuah jeda batin. Jalan-jalan tidak sekadar ramai oleh mobilitas, melainkan oleh suasana khidmat; kota-kota tidak hanya bergerak sebagai ruang ekonomi, tetapi juga sebagai ruang makna. Tahun ini, suasana itu semakin terasa karena rangkaian Pekan Suci jatuh sangat dekat dengan hari ini: Jumat Agung pada 3 April 2026 dan Paskah pada 5 April 2026.

Momentum itu penting bukan semata bagi umat Kristiani, melainkan juga bagi seluruh warga NTT yang hidup dalam tenunan sosial yang sama. Karena itu, Paskah di NTT tidak cukup dibaca sebagai perayaan iman yang bersifat internal. Ia juga dapat dibaca sebagai cermin etika publik. Dalam konteks masyarakat majemuk, perayaan besar keagamaan sesungguhnya memperlihatkan apakah kita hanya hidup berdampingan, atau benar-benar hidup saling menopang.

Di titik inilah gagasan tentang interdependensi lintas iman menjadi penting. Toleransi sering dimengerti secara minimalis, sekadar tidak mengganggu yang lain. Padahal, kehidupan sosial tidak pernah ditopang oleh sikap saling membiarkan semata. Ia bertahan karena ada kesediaan untuk saling menjaga, saling menahan diri, dan diam-diam ikut memikul beban suasana bersama.

Dari Toleransi ke Interdependensi

Dalam diskursus publik, toleransi acap kali diperlakukan seperti pagar: cukup ada, cukup kokoh, lalu kita merasa kehidupan bersama telah aman. Namun, masyarakat yang sehat tidak dibangun hanya dengan pagar; ia dibangun dengan jembatan. Interdependensi adalah jembatan itu. Ia menunjuk pada kenyataan bahwa kenyamanan ibadah satu kelompok sering kali bergantung pada kebijaksanaan sosial kelompok lain; ketertiban ruang publik pada hari besar keagamaan bergantung pada kedewasaan bersama; dan rasa damai sebuah kota lahir bukan dari keseragaman, melainkan dari kerja senyap banyak pihak yang rela menyesuaikan diri.

NTT menyediakan konteks yang sangat khas untuk membaca gagasan ini. Dengan jumlah penduduk 5,66 juta jiwa pada 2024, provinsi ini memang didominasi oleh umat Katolik dan Protestan. Data Kementerian Agama yang dirangkum Katadata menunjukkan bahwa pada 2024 sekitar 53,98 persen penduduk NTT beragama Katolik dan 36,23 persen Protestan, sementara Islam sekitar 9,48 persen, dan Hindu sekitar 0,1 persen. Angka-angka ini menunjukkan dua hal sekaligus: pertama, Paskah memang merupakan denyut sosial mayoritas; kedua, justru karena itu kualitas kehidupan bersama di NTT amat ditentukan oleh bagaimana kelompok-kelompok yang berbeda iman membangun relasi kewargaan yang matang.

Mengapa Etika Ini Penting bagi NTT

Gagasan interdependensi lintas iman menjadi semakin relevan karena NTT bukan wilayah yang hidup dalam kemewahan sosial. Ia masih berhadapan dengan pekerjaan rumah pembangunan yang berat. Pada Maret 2025, persentase penduduk miskin di NTT masih 18,60 persen, atau sekitar 1,09 juta orang. Pada 2024, IPM NTT berada di angka 69,14, masih di bawah IPM nasional yang mencapai 75,02. Ketimpangan pengeluaran memang relatif menurun, dengan Gini Ratio September 2024 sebesar 0,3155, tetapi itu tidak otomatis berarti kerentanan sosial telah usai.

Dengan kata lain, masyarakat NTT masih memikul beban pembangunan yang tidak ringan. Dalam lanskap seperti itu, perayaan keagamaan memiliki arti sosial yang melampaui ritual. Ia dapat menjadi semacam “sekolah kewargaan” yang halus; mengajarkan disiplin sosial, menumbuhkan empati, dan melatih masyarakat untuk menahan ego komunal demi suasana bersama. Maka Paskah, dalam konteks NTT, dapat dibaca bukan hanya sebagai perayaan kebangkitan dalam bahasa teologis, tetapi juga sebagai pengingat bahwa masyarakat yang rapuh secara ekonomi tidak boleh dibiarkan rapuh secara sosial.

Merawat NTT sebagai Rumah Bersama

Karena itu, sumbangan paling berarti dari suasana Paskah di NTT bukan hanya kesyahduan seremonialnya, melainkan pelajaran etis yang ditinggalkannya. Kita belajar bahwa masyarakat tidak bertahan hanya oleh hukum dan institusi, tetapi juga oleh kebiasaan saling menjaga. Dalam istilah yang lebih sosiologis, ruang publik yang sehat lahir dari modal moral yang dipraktikkan, bukan hanya dari norma yang diumumkan. Di sinilah Paskah dapat dibaca sebagai momentum untuk menegaskan kembali etika interdependensi lintas iman.

Umat mayoritas memerlukan kedewasaan untuk melihat kelompok lain bukan sebagai pelengkap yang pasif, tetapi sebagai sesama pemilik rumah sosial yang sama. Sebaliknya, kelompok minoritas memerlukan kepercayaan diri kewargaan untuk hadir bukan dengan rasa terasing, tetapi dengan kesadaran bahwa merawat kedamaian mayoritas juga merupakan bagian dari merawat tanah bersama.

NTT, dengan seluruh kerentanannya, membutuhkan lebih dari sekadar slogan kerukunan. Ia membutuhkan etika publik yang hidup dalam tindakan. Paskah menawarkan bahasa simbolik yang kuat untuk itu: bahwa kehidupan selalu lebih kokoh ketika dibangun di atas pengorbanan, empati, dan kesediaan untuk tidak hidup sendiri-sendiri. Pada akhirnya, yang kita rawat di musim Paskah bukan hanya kekhusyukan umat Kristiani, melainkan juga kemungkinan paling mendasar dari sebuah provinsi majemuk: bahwa kita tetap dapat tinggal bersama tanpa saling mengerdilkan. Dan dalam dunia yang makin riuh oleh identitas yang saling menegasi, pelajaran seperti itu bukan hal kecil. Ia adalah modal peradaban.

Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *