Kapan Bayi Mulai Bisa Tertawa?
Pada bulan pertama kehidupan si Kecil, mungkin Mama pernah melihat ia tertawa dalam tidurnya. Hal ini ternyata bukan suatu kesengajaan, Ma. Pasalnya, tertawa merupakan sebuah bentuk refleks yang dilakukan bayi tanpa ia tersadar. Tawa pertama pada bayi yang sesungguhnya biasanya akan muncul beberapa bulan kemudian.
Tawa pertama pada bayi biasanya muncul saat ia berusia 3 hingga 4 bulan. Namun begitu, tidak menutup kemungkinan si Kecil mulai bisa tertawa di usia yang lebih tua. Si Kecil biasanya akan memulai tertawa kecil sebagai respons untuk hal-hal sederhana yang ia lihat, seperti melihat mainan atau orang-orang di sekitarnya.
Namun, apa yang menjadi pemicu tawa pertamanya tidak bisa diprediksi, Ma. Pasalnya, apa yang menjadi pemicu tawa pertamanya mungkin saja tidak bisa membuatnya tertawa untuk kedua atau ketiga kalinya.
Bayi Tertawa, Apakah Itu Tandanya si Kecil Bahagia?

Tertawa identik dengan perasaan bahagia, apakah hal ini juga berlaku pada bayi di bawah usia satu tahun? Jawabannya, bisa jadi, Ma. Namun, hal ini masih diperdebatkan. Meski bayi usia 3-4 bulan sudah bisa mengungkapkan emosinya melalui tertawa, hal yang membuatnya tertawa bisa jadi bukan karena hal lucu yang membuatnya bahagia.
Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Caspar Addyman, seorang peneliti dari University of London, yang melibatkan lebih dari 1000 orangtua dari seluruh dunia. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa bayi tertawa bukan disebabkan oleh hal-hal yang lucu dan bahagia. Setelah diteliti lebih lanjut, ada beberapa alasan yang membuat bayi tertawa, antara lain:
- Si Kecil akan menunjukkan tawanya ketika ia mendengar bunyi bibir orang yang menciumnya, suara tepuk tangan, mendengar suara lengkingan, mendengar suara berulang, seperti bunyi bel, siulan, lonceng, atau kerincingan bayi. Suara-suara tersebut dianggap lebih menarik dibandingkan suara seseorang saat berbicara.
- Bayi akan tertawa jika Mama mengajaknya bermain cilukba dengan cara menutupi wajah dengan kedua tangan ataupun bermain menyembunyikan mainan.
- Ia juga akan tertawa saat ia merasakan geli dari sentuhan yang belum pernah ia alami sebelumnya. Misalnya, saat Mama meniup lembut kulit si Kecil, menggelitik perutnya, atau berpura-pura mengunyah jari kakinya.
Kesimpulannya, bayi mulai bisa tertawa ketika memasuki usia 3 bulan dan aktivitas ini merupakan salah satu caranya untuk berkomunikasi. Kendati demikian, setiap bayi punya timeline perkembangan yang berbeda-beda, jadi Mama tidak perlu khawatir bila si Bayi belum tertawa sampai berusia 6 bulan. Nanti, ketika ia sudah berusia lebih dari enam bulan, Mama bisa mengkonsultasikan kondisinya ke dokter untuk memastikan tidak adanya tanda keterlambatan perkembangan pada si Kecil.
7 Hal yang Bisa Orangtua Lakukan agar Bayi Tertawa
- Bermain dengan mainan yang menarik: Mainan dengan warna-warna cerah dan suara menarik dapat memancing tawa bayi.
- Membacakan cerita atau menyanyikan lagu: Suara Mama yang lembut dan nyanyian yang berirama bisa membuat bayi tertawa.
- Melakukan permainan interaktif: Seperti permainan “bermain sembunyi” atau “menyentuh hidung”.
- Menciptakan suasana yang menyenangkan: Lingkungan yang tenang dan penuh kasih sayang dapat membantu bayi merasa nyaman dan tertawa.
- Menunjukkan ekspresi wajah yang lucu: Ekspresi wajah Mama yang berubah-ubah dapat membuat bayi tertawa.
- Berinteraksi dengan bayi secara rutin: Interaksi harian seperti berbicara, menggoyang, atau menggendong bisa memicu tawa bayi.
- Memberikan stimulasi sensorik: Sentuhan lembut, suara, dan visual yang menarik dapat membangkitkan rasa senang dan tertawa pada bayi.
Bayi Tertawa Saat Tidur, Normalkah?
Tertawa saat tidur adalah hal yang umum terjadi pada bayi. Biasanya, tawa ini terjadi akibat mimpi atau refleks alami dari sistem saraf bayi. Jika bayi hanya tertawa sedikit dan tidak mengganggu tidurnya, maka ini dianggap normal. Namun, jika tawa terjadi terlalu sering atau disertai gejala lain seperti sulit tidur, iritabilitas, atau kejang, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk memastikan tidak ada masalah kesehatan yang mendasar.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











