Pencapaian Internasional Film Ghost in the Cell
Film Ghost in the Cell karya Joko Anwar mencatatkan pencapaian yang luar biasa di kancah internasional. Bahkan sebelum tayang di Indonesia pada 16 April 2026, film ini sudah terjual ke 86 negara setelah mendapat sambutan hangat di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026. Sebelumnya, Joko Anwar telah sukses dengan berbagai karyanya yang mendunia, seperti Pengabdi Setan (2017), Perempuan Tanah Jahanam (2019), hingga karya legendarisnya, Pintu Terlarang (2009).
Film yang mengusung tema abuse of power, korupsi, dan ketidakadilan dalam balutan horor komedi ini diproduksi oleh Come and See Pictures bersama Rapi Films, Legacy Pictures, dan Barunson E&A. Meski sukses, muncul pertanyaan: apakah humor khas Indonesia bisa diterima oleh penonton global? Joko Anwar dan pemeran utama, Abimana Aryasatya, memberikan tanggapan mereka.
Awal Kekhawatiran tentang Humor Indonesia
Baik Joko Anwar maupun Abimana Aryasatya mengaku sempat cemas saat film ini pertama kali diputar di Berlinale. Mereka khawatir bahwa humor khas Indonesia akan sulit dicerna oleh penonton internasional.
“Kita waktu itu sangat khawatir banget. Karena apa? Joke-nya kan Indonesia banget ya. Kita berpikir bahwa gimana nanti kalau misalnya kita bawa ke Berlinale pertama kali diputar untuk public, untuk global audiens pula,” ucap Joko Anwar saat ditemui di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Kamis (9/4/2026).
Abimana yang memerankan Anggoro di film ini pun mengamini perasaan Joko Anwar. Ia ikut world premiere di Berlinale dan sempat terkejut melihat keragaman penonton yang hadir untuk menonton Ghost in the Cell.
“Ada ibu-ibu yang 80-90 tahun dengan suaminya, ada anak remaja, mahasiswa Meksiko, ada yang dari Prancis. Wah, ini random banget ya, Joko,” ucap Abimana sambil menengok ke arah Joko.
Atmosfer menjelang penayangan jadi menegangkan. Alih-alih bangga, Joko Anwar mengaku gugup menghadapi respons penonton global yang belum tentu familiar dengan konteks lokal Indonesia.
“Abi tuh gini, ‘Jok, ini random banget nih orangnya?’ ‘Terus gimana?’ (balas Joko) ‘Gimana orang nonton?’ (lanjut Abi) ‘Ya gimana bi?’,” cerita Joko sambil tertawa.
Respons Penonton Global yang Menyenangkan
Untungnya, kekhawatiran itu perlahan sirna begitu film mulai diputar. Respons penonton ternyata jauh di luar ekspektasi keduanya: pecah dari awal hingga akhir.
“Bahkan yang di Indonesia kita anggap gak begitu lucu ya, itu malah mereka ketawa banget,” ungkap Joko.
Menurut Abimana, kekuatan humor film ini terletak pada perpaduan komedi di dalamnya. Ada sentuhan komedi ala Asia, tapi juga humor kering (receh) dan sarkas yang ternyata sangat relate dengan penonton Barat.
“Ghost in the Cell sebenarnya mix of comedy. There’s Asian comedy in it too, tapi juga ada komedi kering. Kalo dibilang komedi yang relatable sama orang bule, deliver-nya tuh sarkas. Saat deliver-nya sarkas, kena banget ke mereka,” tambah Abi.
Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah joke tentang Norwegia, negara dengan tingkat korupsi rendah menurut Transparency International. Hal ini membuktikan bahwa korupsi adalah isu global yang mudah dipahami oleh warga negara mana pun.
“Itu kena banget ke mereka. Mereka tertawa satu gedung pas Norway itu, dan itu relate. Menurut saya, tidak jadi masalah saat 86 negara punya keresahan sama yang mereka rasakan juga,” jelas Abi.
Keautentikan Humor Indonesia
Bagi Joko Anwar, pengalaman di Berlinale justru memperkuat keyakinannya tentang pentingnya keautentikan dalam berkarya.
“Authenticity to travel. Artinya, kalo kita bikin film yang authentically Indonesia dengan masalah kita dengan cara berpikir yang kita punya, itu akan menjadi lebih universal. Akan lebih menarik buat global,” jelasnya.
Ia menekankan, korupsi sebagai tema utama dalam film ini tidak memiliki “kewarganegaraan.” Semua negara, bahkan negara maju pun, punya masalah serupa. Hanya saja, tentunya, dengan wajah yang berbeda.
“Nah, ketika mereka melihat korupsi di Indonesia, mereka akan punya perspektif baru untuk bagaimana cara menanggapi situasi yang terjadi di negara mereka. Jadi, mereka punya tambahan perspektif baru. Dan itu refreshing banget buat mereka, termasuk joke– joke-nya,” lanjut Joko.
Ke depan, Joko Anwar menegaskan tidak akan mencoba menyesuaikan diri secara berlebihan demi pasar global.
“Kita akan stick di bagaimana cara kita berpikir dan bagaimana kita membuat jokes, dan sebagainya. Karena itu autentik dan authenticity itu yang akan membuat sebuah film lebih universal,” katanya.













